Posted by : Zusli zuSaeng Triple'S
Wednesday, April 23, 2014
Details:
-
Title : Out The Club
-
Genre :
love, little yadong*PLAKK!!*
-
Category : fanfiction, oneshoot
-
Author : Zusli a.k.a Shin Sung Young
-
Summary : Saya berniat membuat FF dengan judul yang diambil dari masing-masing judul lagu solo personil SS501 dengan tokoh utama personil yang bersangkutan dalam genre yang berbeda.
-
Casts :
·
Heo Young Saeng
·
Shin Sung Young
·
And others…..
Thanks to God,
casts, and readers^_^♥
Happy reading…..
©2012 zuSaeng501
*501*
Seorang yeoja tengah menatap lekat seorang namja yang
sedang meminum soju. Entah sudah yang keberapa kali namja itu meneguk minuman
yang memabukkan tersebut. Empat botol kosong telah terjajar di mejanya. Namja
itu sudah berjam-jam yang lalu di situ. Bahkan ini bukan untuk yang pertama
kalinya dia mengunjungi tempat ini, sebuah club yang cukup ternama di Seoul.
Tapi herannya namja itu hanya sendirian saja. Tak seperti biasanya yang selalu
membawa yeoja yang berbeda setiap datang. Mungkin dia sedang ada masalah.
Tersirat dengan jelas wajahnya yang frustasi dan kelelahan. Bahkan tak jarang
dia menangis.
“Sung Young-ah, bisakah kau mengosongkan club ini?”
Perintah pemilik club pada seorang pelayan di sini.
“Ini baru pukul 12, Mr.Seo. Ada apa kalau boleh tahu?”
“Aku akan menggunakan tempat ini. Aku beri waktu 20
menit, ppali-ya!”
Sung Young hanya menurut pada bossnya. Dengan cepat
dia memberitahukan kepada seluruh pengunjung untuk segera meninggalkan club,
sambil meminta maaf tentunya. Dengan berat hati semua pengunjung bergegas pergi,
kecuali satu. Yah, dia adalah namja yang sejak tadi diperhatikan Sung Young.
Sepertinya namja itu tidak sadarkan diri. Dia sudah terlalu mabuk rupanya. Tentu
saja, siapa sih yang tidak mabuk setelah meneguk hampir 5 botol soju. Sung
Young dengan hati-hati membangunkan namja itu. Sebenarnya dia tidak enak
melakukannya.
“Tu…Tuan, club kami akan tutup. Maaf atas
ketidaknyamanannya. Tapi…bisakah tuan meninggalkan club ini?” Namja itu tidak
bergeming. Matanya tetap terpejam, wajahnya sudah sangat memerah karena mabuk.
“Tuan…tuan
jebalyo.” Ucap Sung Young sambil mengguncangkan tubuh namja itu. Tapi
dia tetap asyik dengan dunianya. Sung Young menghela nafas (sabar).
“Eottoke? Sudah kosong Sung Young-ah?” Mr.Seo
tiba-tiba muncul.
“Namja ini, Mr.Seo. Dia terlalu mabuk sepertinya.”
“Ah, kau coba cari ponselnya dan hubungi keluarganya
atau siapapun.”
Dengan gugup Sung Young menggeledah pakaian namja itu.
Mulai dari jaket yang ia kenakan sampai celana. Tapi nihil, dia tidak menemukan
ponsel. Yang ditemukannya hanya sebuah kunci mobil dan beberapa uang.
“Sepertinya namja ini tidak membawa ponsel.”
“Hmm, kalau begitu kau bawa saja dia ke motel
terdekat, jebal Sung Young-ah.” Sung Young terbelalak. Kenapa harus dia yang
membawa namja ini ke motel?
“Ha…hajiman…” Sung Young ingin menolak permintaan
bossnya.
“Ayo aku
bantu menuntunnya ke mobil namja ini. Kau bisa menyetir, kan?”
Sung
Young akhirnya menyerah. Dia tidak bisa menolak bossnya yang kepalanya bahkan
lebih keras dari batu(?). Dengan susah payah Mr.Seo dan Sung Young menuntun
namja mabuk itu menuju mobil Lamborghini hijau (:p) yang terparkir di depan
club.
“Benar
kau bisa menyetir?” Sung Young hanya mengangguk. Dia dulu sempat belajar
menyetir dan berhasil. Tetapi sudah berbulan-bulan dia tidak menyetir kendaraan
itu. Sung Young menghela nafas singkat kemudian langsung menempatkan diri di
kursi pengemudi. Wow, mobil namja ini benar-benar mewah. Sung Young tertegun
sejenak.
~☺~
Hosh…hosh…
Sung Young terengah-engah setelah menuntun Young Saeng dari parkiran sampai
kamar yang dipesan. Badannya pegal sekali setelah menopang tubuh namja mabuk
itu.
“Michyeoseo!
Namja ini berat sekali, heuh.”
Ditatapnya
namja yang tengah terlelap di atas ranjang. Ternyata namja itu cukup tampan,
dengan pipinya yang chubby dan alisnya yang tebal serta hidungnya yang mancung.
Selama ini Sung Young tidak memperhatikan. Dia tersenyum sekilas lalu berniat
pergi dari sini karena dirasa urusannya sudah selesai. Namun saat akan
beranjak, tangan Sung Young seperti ada yang mencengkram. Ternyata benar, namja
itulah yang mencengkram Sung Young.
“Temani
aku…Jangan…pergi…” Rintih namja itu. Sung Young yang terkejut hanya bisa menarik-narik
tangannya kembali. Namja itu justru semakin kencang mencengkram tangan Sung
Young saat Sung Young semakin menarik tangannya. Cengkraman yang begitu kuat membuat
pergelangan tangan Sung Young nyeri. Aneh memang, kekuatan namja ini ternyata
sangat besar bahkan saat mabuk. Karena Sung Young semakin meronta, akhirnya
namja itu malah menarik Sung Young yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan
terjatuh. Sialnya Sung Young terjatuh tepat di atas tubuh si namja. Ommo! Wajah
Sung Young yang tepat menghadap wajah si namja membuatnya menahan nafas
mengingat jarak mereka mungkin hanya 10cm. Sung Young semakin jelas saja
melihat wajah namja itu.
Tanpa
diduga, namja itu membuka matanya yang sedari di club tadi terpejam. Menatap
sendu kearah Sung Young. Tapi dia sepertinya masih mabuk. Karena malu dan takut
berada sedekat ini dengan orang asing, Sung Young berusaha menyingkir dari
tubuh di bawahnya. Sayang sekali namja itu menahan punggung Sung Young, tidak
memperbolehkan pergi. Tentu saja Sung Young semakin kalap.
“Apa yang
lau lakukan? Hyaaa!” Teriak Sung Young. Namja itu diam saja, tanpa ekspresi.
Sung Young masih berusaha meronta, mencoba lepas dari si namja.
“Jebal!
Lepaskan aku.” Pinta Sung Young, tapi tidak digubris.
Tiba-tiba
tangan si namja justru menahan kepala Sung Young sambil ditariknya perlahan
agar lebih mendekat padanya. Sung Young lebih memperkuat perlawanannya tapi
namja itu semakin kencang mendekapnya. Akhirnya terhapus sudah jarak 10cm di
antara mereka. Tentu saja Sung Young sangat terkejut, entah mendapat keberanian
darimana dia malah menggigit keras-keras bibir namja yang sedang menciumnya itu
sehingga berdarah.
“Agggh…!”
Teriak namja itu kesakitan. Saat dekapannya mengendur, Sung Young langsung
memukul perut namja itu agar dekapannya terlepas semua. Sakit, namja itu hanya
meringkuk menahan sakit pada perutnya. Sung Young tidak peduli, dia segera
pergi keluar motel dengan segenap rasa sedih, takut, dan jengkel dalam hatinya.Yah,
namja asing yang tidak dikenal Sung Young itu justru telah merebut first
kissnya. Selama perjalanan pulang, Sung Young hampir menangis mengingat
kejadian tadi. Untung saja tadi tidak berlanjut ke hal yang lebih jauh. Cukup
melegakan.
~☺~
Seorang
namja berjalan menuju bartender, menghampiri seorang yeoja yang sedang
membersihkan meja. Dia hendak menanyakan sesuatu.
“Silyehamnida.”
Ucap namja itu sopan. Yeoja yang disapa mendongak dan terkejut mendapati siapa
di depannya. Ne, yeoja itu Sung Young. Dan namja yang menyapanya tak lain
adalah namja yang semalam.
“N..Ne,
ada apa?” Tanya Sung Young gugup. Dia tidak sengaja melihat titik gelap pada
bibir namja itu (bekas gigitan oy).
“Aku
hanya ingin bertanya. Apa kamu tahu seseorang yang membawaku kemarin? Saat aku
sedang mabuk.” Deg! Jantung Sung Young nyaris berhenti ditanya seperti itu.
Akankah dia menjawabnya?
“Umm,
mollayo tuan.” Sung Young kembali membersihkan meja, tapi hanya pura-pura.
“Ah..Aku
menduga dia seorang yeoja. Dia meninggalkan ini di kemejaku. Kau tau ini milik
siapa? Oiya, panggil saja aku Young Saeng”
Namja
bernama Young Saeng itu memperlihatkan sebuah anting kepada Sung Young. Sung
Young hanya memelototi benda itu dan menggeleng. Sejenak dia meraba telinga
kanannya yang kosong. Yah, benar itu antingnya. Tapi Sung Young menutupi
telinganya dengan rambut panjangnya.
“Mianhae
Young Saeng-ssi, jeongmal mollayo.”
Jawaban
Sung Young membuatnya menghela putus asa. Dia berharap sekali bisa tahu siapa
yeoja yang mau membawanya ke motel. Tentu dia ingin mengucapkan terimakasih
dan…minta maaf mungkin?
“Hm, ok
gamsahamnida. Kalau begitu aku pesan minuman saja,, enggg..soju 1 botol.”
Setelah
memesan, Young Saeng menuju ke meja favoritnya. Dia menunggu sambil melihat
anting itu. Dirinya terus dihinggapi rasa penasaran. Siapa yeoja yang
bersamanya semalam?
“Ini,
Young Saeng-ssi.” Sung Young meletakkan soju diatas meja Young Saeng. Lalu
segera pergi menghampiri pelanggan-pelanggan yang baru datang. Sambil meneguk
pesanannya, pandangan Young Saeng tak pernah lepas dari Sung Young. Terus
diamatinya setiap gerak Sung Young. Seolah dia penasaran dengan yeoja pelayan
itu.
Pukul 12
malam tiba. Waktu kerja Sung Young telah berakhir. Setiap hari senin Sung Young
hanya bekerja sampai jam 12. Dia membereskan tasnya dan bergegas pulang. Tak
sengaja dia melihat ke satu meja pelanggan. Young Saeng, ternyata dia masih di
sana. Entah apa yang dilakukannya. Begitu melihat Sung Young keluar dari club,
Young Saeng berniat untuk pulang juga, setelah membayar pesanannya tentunya.
Dari kejauhan
Young Saeng masih bisa melihat sosok Sung Young yang tengah berjalan di
kegelapan malam. Tiba-tiba mata Young Saeng menangkap siluet manusia yang
muncul dari semak-semak mengagetkan Sung Young. Dapat dengan jelas Young Saeng
melihat yeoja itu ditarik-tarik secara paksa oleh orang itu. Karena khawatir
terjadi apa-apa, Young Saeng berlari mendekati.
“Hei!!
Lepaskan yeoja itu?!” Teriak Young Saeng begitu melihat Sung Young yang
ketakutan, entah apa yang akan dilakukan orang itu yang ternyata seorang namja.
“Berani
kau?!”
Akhirnya
terjadilah pertempuran seru antara Young Saeng dengan namja itu. Sung Young
menjauh sedikit menyaksikan perkelahian di depannya. Jantungnya masih berdebar-debar
(takut). Pada akhirnya Young Saeng yang menang. Namja itu babak belur tapi
Young Saeng tidak terluka sedikit pun.
“Gwaenchanayo
agashi??” Tanya Young Saeng khawatir pada Sung Young.
“Ne…Emm,
panggil saja aku Sung Young. Ah, jeongmal gamsahamnida telah menolongku.”
Mungkin karena tadi, rambut Sung Young menjadi tersibak. Memperlihatkan
telinganya. Dan Young Saeng melihat keganjilan pada telinga kanan Sung Young.
“Hei,,
kau yeoja itu? Kenapa tadi berbohong?” Menyadari sesuatu, Sung Young langsung
menutupi telinga kanannya. Ketahuan sudah, dia tidak bisa mengelak lagi. “Ini
milikmu, kan??” Young Saeng memberikan anting yang sedari tadi berada di saku
jaketnya.
“Mian..”
“Anni,
aku hanya mau mengucapkan terimakasih padamu. Jeongmal gamsahamnida telah
membawaku ke motel.” Young Saeng membungkukkan badannya 2 kali sebagai tanda
bahwa ia sangat berterimakasih. “Oh iya, apa terjadi sesuatu malam itu?” Tanya
Young Saeng takut-takut. Sung Young menggeleng cepat. Agar Young Saeng tidak
bertanya-tanya lagi dia segera pergi, menghentikan taksi yang kebetulan melintas
di depannya.
~☺~
Sejak
pertemuan itu, Young Saeng selalu datang ke club yah walau dia memang sejak
dulu ke situ terus. Tapi tujuannya berbeda, dia ke club hanya untuk menemui
Sung Young, bukan untuk mabuk. Dia merasa ada suatu hal yang terjadi pada malam
itu, terbukti dengan tingkah Sung Young yang selalu menghindar darinya.
Walaupun Young Saeng sudah meminta maaf atas entah kesalahan apa, tapi dia
tetap penasaran. Dan sepertinya,,, Young Saeng mulai tertarik pada yeoja cantik
itu.
Di club,
Young Saeng bahkan sering membantu Sung Young. Membantu saat Sung Young dalam
masalah. Atau ketika Sung Young digoda oleh nappeun namja, Young Saeng mau
membela Sung Young. Lama-kelamaan hati Sung Youg luluh, merasa Young Saeng
begitu baik padanya. Dia tidak bisa menghindari namja itu terus. Akhirnya saat
mereka sedang berbincang, Young Saeng menanyakan hal yang selalu membuatnya
penasaran dan kali ini Sung Young menjawabnya.
“Aku
Tanya sekali lagi, apa terjadi sesuatu pada malam itu? Kelihatannya membuatmu
sedih.”
“Ne,
sebenarnya kau…malam itu telah..menciumku. Hhh, itu nae first kisseu.”
Young
Saeng terbelalak. Dia benar-benar merasa bersalah telah mencium yeoja yang
bahkan belum dikenalnya pada waktu itu. Dan jujur, itu sebenarnya juga first
kiss untuk Young Saeng. “Hajiman gwaenchana, tidak usah dipermasalahkan,
Aku…tidak apa-apa.” Sung Young mencoba tersenyum. Tapi Young Saeng justru tidak
bisa berhenti mengucapkan kata maaf.
“Aih,
jeongmal Young Saeng-ssi, aku tidak apa-apa.”
“Baiklah.
Ah ya, panggil saja aku oppa, agar lebih akrab.”
“Ne, oppa.
Emm, aku juga ingin bertanya. Oppa hobi mabuk, ne?”
“Mworago?
Ah itu. Sebenarnya dulu aku tidak pernah mabuk-mabukan. Hanya saja, sejak
kejadian itu…yahh.” Young Saeng tertunduk. Pikirannya melayang ke masa lalu.
“Eh?
Memang ada apa kalau boleh tahu?” Young Saeng menatap Sung Young, menghela
nafas. Di matanya terpancar kesedihan.
“Dulu aku
punya yeojachingu, tapi dia selingkuh. Aku sangat terpukul melihatnya
bermesraan dengan namja lain. Belum selesai masalah itu, orangtuaku
terang-terangan berkata padaku bahwa mereka akan bercerai, hhh… Mereka sungguh
tidak memikirkanku!” Brakk! Young Saeng menggebrak meja, emosi. Membuat Sung
Young terlonjak di tempat.
“Aku
sedih mendengar ceritamu, hajiman…kau harus bersabar menerima cobaan ini. Mabuk
bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasinya. Justru malam memperburuk
keadaan.”
“Hehe,
mian aku sedikit emosi. Heum, lucu kau mengatakan hal seperti itu. Padahal kau
kan pelayan di sini.” Sung Young hanya tersenyum kecut menanggapi.
“Kau
tahu, aku sebenarnya tidak mau bekerja di sini. Tapi kalau tidak bekerja, aku
tidak akan punya uang untuk menghidupi diriku.”
“Nah,
kalau begitu keluar saja. Aku akan membantumu mencari pekerjaan lain. Memang
kau tinggal sendiri?”
“Ne, aku tinggal
di apartemen sendiri. Orangtuaku…sudah tiada.” Menghela nafas singkat. “Eh, apa
kau serius mau membantuku?” Young Saeng hanya mengangguk mengiyakan. “Waeo?
Kenapa kau mau membantuku, oppa?” Lanjut Sung Young.
“Ah,
sebenarnya selain itu, aku tidak mau kau berlama-lama di sini dan digoda oleh
namja-namja kurang ajar.”
“Memang
kau siapa sampai bisa berkata seperti itu?” Tanya Sung Young penasaran.
Pertanyaan Sung Young membuat Young Saeng gugup sesaat, entah wajahnya
tiba-tiba memerah. Young Saeng terlihat ingin mengatakan sesuatu.
“Aku…aku
sebenarnya menyukaimu Sung Young-ah. Nae yeojachingu halkkayo?”
~☺~
Mata
Young Saeng langsung jelalatan(?) begitu dia masuk ke apartemen yeojachingunya.
Ini pertama kalinya sejak mereka pacaran. Apartemen Sung Young lumayan besar
dan tentunya sangat rapi. Walau tidak banyak perabot di dalamnya, inilah yang
membuat apartemen Sung Young terlihat luas.
Young
Saeng langsung menghempaskan pantatnya begitu melihat sofa merah di hadapannya.
Siang ini cukup melelahkan untuk mereka. Yah, seharian ini Young Saeng membantu
Sung Young untuk mencari pekerjaan. Sung Young merasa lega telah terlepas dari
club itu. Dan pada malam perbincangan itu, Young Saeng juga telah berjanji
bahwa ia tidak akan mabuk lagi, demi Sung Young.
“Jhagi,
duduklah.” Pinta Young Saeng sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Sung
Young hanya menurut.
“Emm,
Sung Young-ah. Aku mau bertanya, apa kau menyesal telah memberikan first kissmu
untukku?” Sung Young heran mendengar pertanyaan namjachingunya, tapi kemudia
dia tersenyum dan menjawab.
“Yah,
awalnya tentu sangat menyesal dan sedih oppa. Hajiman, saat ini sudah berubah.
Selama oppa selalu bersamaku, aku tidak akan menyesal, hehe.”
“Hahaha,
bisa saja kamu. Ah, jujur itu juga first kiss untukku.”
“Kojitmalyo!”
Bantah Sung Young cepat. Dia merasa Young Saeng berbohong dengan mengatakan
bahwa malam itu adalah ciuman pertamanya.
“Mwoya?
Kau tidak percaya?”
“Heuh,
oppa kan sudah pernah punya pacar. Hmm, dan kulihat dulu oppa suka bawa yeoja
saat di club.” Young Saeng hanya melengos.
“Heh, walau
aku sudah pernah pacaran, tapi aku belum pernah menciumnya. Dan satu lagi,
yeoja yang aku bawa saat di club itu tak lain hanya untuk menemaniku saja,
tidak ada maksud lain. Jeongmal, aku mengatakan yang sebenarnya.” Jelas Young
Saeng panjang lebar mencoba meyakinkan Sung Young. Tapi Sung Young malah
memandang Young Saeng dengan tatapan menyelidik.
“Hahaha,
baiklah. Aku percaya padamu, oppa.” Itu membuat Young Saeng lega. “Hajiman, wajah
oppa sedikit meragukan. Karena tampang oppa adalah tampang-tampang seorang
nappeun namja, hehe.” Kata Sung Young sambil menjulurkan lidahnya, mencoba
menggoda namjachingunya.Young Saeng yang diperlakukan seperti itu hanya
cemberut. Tapi tak lama kemudian dia tersenyum jahil.
“Baiklah,
aku akan menjadi seperti yang kau pikirkan. Aku akan menjadi nappeun namja.”
Young
Saeng mengeluarkan evil smilenya. Sung Young yang semula tertawa langsung
terdiam melihat Young Saeng menatap tajam kearahnya. Perasaannya tidak enak.
Tanpa dikomando, Young Saeng langsung melepaskan hoodie yang dipakainya. Kali
ini Young Saeng menatap Sung Young seduktif sambil berusaha melepas kaos
hijaunya, tapi tidak jadi. Sung Young menelan ludah, tidak dapat berkata
apa-apa. Tiba-tiba Young Saeng menggeser duduknya lebih mendekat ke Sung Young.
Sung Young menjadi was-was, jantungnya berdebar-debar. Semakin Young Saeng
mendekat, Sung Young malah menggeserkan pantatnya menjauh. Sampai akhirnya
punggungnya menabrak lengan sofa. Tentu itu membuat Sung Young tidak dapat
bergerak lagi mengingat Young Saeng sudah berada tepat di depannya. Pikirannya
langsung kacau saat ini.
Melihat
Sung Young yang ketakutan dan gugup membuat Young Saeng melebarkan evil
smilenya. Tagan Young Saeng tergerak menuju pipi Sung Young. Perlahan-lahan
Young Saeng memajukan wajahnya. Seperti tahu apa yang akan dilakukan Young
Saeng atau karena terlalu gugup, Sung Young langsung memejamkan matanya.
Hajiman…
“Jhagiya?
Kau ini kenapa? Aku kan hanya ingin mengambil semut di pipimu, lihat.” Sontan
Sung Young langsung membuka matanya. Young Saeng ternyata sudah kembali duduk
di posisi semula. Terlihat jelas ekspresi Young Saeng yang menahan tawa. “Huff,
huff, hari ini panas sekali, yah.” Kata Young Saeng sambil mengibaskan kerah
kaosnya. Tak lupa dia mengerling pada Sung Young yang menahan malu.
“Young
Saeng oppaaa!!! Kau sangat menyebalkan!!!”
*THE END*
Seorang yeoja tengah menatap lekat seorang namja yang
sedang meminum soju. Entah sudah yang keberapa kali namja itu meneguk minuman
yang memabukkan tersebut. Empat botol kosong telah terjajar di mejanya. Namja
itu sudah berjam-jam yang lalu di situ. Bahkan ini bukan untuk yang pertama
kalinya dia mengunjungi tempat ini, sebuah club yang cukup ternama di Seoul.
Tapi herannya namja itu hanya sendirian saja. Tak seperti biasanya yang selalu
membawa yeoja yang berbeda setiap datang. Mungkin dia sedang ada masalah.
Tersirat dengan jelas wajahnya yang frustasi dan kelelahan. Bahkan tak jarang
dia menangis.
“Sung Young-ah, bisakah kau mengosongkan club ini?”
Perintah pemilik club pada seorang pelayan di sini.
“Ini baru pukul 12, Mr.Seo. Ada apa kalau boleh tahu?”
“Aku akan menggunakan tempat ini. Aku beri waktu 20
menit, ppali-ya!”
Sung Young hanya menurut pada bossnya. Dengan cepat
dia memberitahukan kepada seluruh pengunjung untuk segera meninggalkan club,
sambil meminta maaf tentunya. Dengan berat hati semua pengunjung bergegas pergi,
kecuali satu. Yah, dia adalah namja yang sejak tadi diperhatikan Sung Young.
Sepertinya namja itu tidak sadarkan diri. Dia sudah terlalu mabuk rupanya. Tentu
saja, siapa sih yang tidak mabuk setelah meneguk hampir 5 botol soju. Sung
Young dengan hati-hati membangunkan namja itu. Sebenarnya dia tidak enak
melakukannya.
“Tu…Tuan, club kami akan tutup. Maaf atas
ketidaknyamanannya. Tapi…bisakah tuan meninggalkan club ini?” Namja itu tidak
bergeming. Matanya tetap terpejam, wajahnya sudah sangat memerah karena mabuk.
“Tuan…tuan
jebalyo.” Ucap Sung Young sambil mengguncangkan tubuh namja itu. Tapi
dia tetap asyik dengan dunianya. Sung Young menghela nafas (sabar).
“Eottoke? Sudah kosong Sung Young-ah?” Mr.Seo
tiba-tiba muncul.
“Namja ini, Mr.Seo. Dia terlalu mabuk sepertinya.”
“Ah, kau coba cari ponselnya dan hubungi keluarganya
atau siapapun.”
Dengan gugup Sung Young menggeledah pakaian namja itu.
Mulai dari jaket yang ia kenakan sampai celana. Tapi nihil, dia tidak menemukan
ponsel. Yang ditemukannya hanya sebuah kunci mobil dan beberapa uang.
“Sepertinya namja ini tidak membawa ponsel.”
“Hmm, kalau begitu kau bawa saja dia ke motel
terdekat, jebal Sung Young-ah.” Sung Young terbelalak. Kenapa harus dia yang
membawa namja ini ke motel?
“Ha…hajiman…” Sung Young ingin menolak permintaan
bossnya.
“Ayo aku
bantu menuntunnya ke mobil namja ini. Kau bisa menyetir, kan?”
Sung
Young akhirnya menyerah. Dia tidak bisa menolak bossnya yang kepalanya bahkan
lebih keras dari batu(?). Dengan susah payah Mr.Seo dan Sung Young menuntun
namja mabuk itu menuju mobil Lamborghini hijau (:p) yang terparkir di depan
club.
“Benar
kau bisa menyetir?” Sung Young hanya mengangguk. Dia dulu sempat belajar
menyetir dan berhasil. Tetapi sudah berbulan-bulan dia tidak menyetir kendaraan
itu. Sung Young menghela nafas singkat kemudian langsung menempatkan diri di
kursi pengemudi. Wow, mobil namja ini benar-benar mewah. Sung Young tertegun
sejenak.
~☺~
Hosh…hosh…
Sung Young terengah-engah setelah menuntun Young Saeng dari parkiran sampai
kamar yang dipesan. Badannya pegal sekali setelah menopang tubuh namja mabuk
itu.
“Michyeoseo!
Namja ini berat sekali, heuh.”
Ditatapnya
namja yang tengah terlelap di atas ranjang. Ternyata namja itu cukup tampan,
dengan pipinya yang chubby dan alisnya yang tebal serta hidungnya yang mancung.
Selama ini Sung Young tidak memperhatikan. Dia tersenyum sekilas lalu berniat
pergi dari sini karena dirasa urusannya sudah selesai. Namun saat akan
beranjak, tangan Sung Young seperti ada yang mencengkram. Ternyata benar, namja
itulah yang mencengkram Sung Young.
“Temani
aku…Jangan…pergi…” Rintih namja itu. Sung Young yang terkejut hanya bisa menarik-narik
tangannya kembali. Namja itu justru semakin kencang mencengkram tangan Sung
Young saat Sung Young semakin menarik tangannya. Cengkraman yang begitu kuat membuat
pergelangan tangan Sung Young nyeri. Aneh memang, kekuatan namja ini ternyata
sangat besar bahkan saat mabuk. Karena Sung Young semakin meronta, akhirnya
namja itu malah menarik Sung Young yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan
terjatuh. Sialnya Sung Young terjatuh tepat di atas tubuh si namja. Ommo! Wajah
Sung Young yang tepat menghadap wajah si namja membuatnya menahan nafas
mengingat jarak mereka mungkin hanya 10cm. Sung Young semakin jelas saja
melihat wajah namja itu.
Tanpa
diduga, namja itu membuka matanya yang sedari di club tadi terpejam. Menatap
sendu kearah Sung Young. Tapi dia sepertinya masih mabuk. Karena malu dan takut
berada sedekat ini dengan orang asing, Sung Young berusaha menyingkir dari
tubuh di bawahnya. Sayang sekali namja itu menahan punggung Sung Young, tidak
memperbolehkan pergi. Tentu saja Sung Young semakin kalap.
“Apa yang
lau lakukan? Hyaaa!” Teriak Sung Young. Namja itu diam saja, tanpa ekspresi.
Sung Young masih berusaha meronta, mencoba lepas dari si namja.
“Jebal!
Lepaskan aku.” Pinta Sung Young, tapi tidak digubris.
Tiba-tiba
tangan si namja justru menahan kepala Sung Young sambil ditariknya perlahan
agar lebih mendekat padanya. Sung Young lebih memperkuat perlawanannya tapi
namja itu semakin kencang mendekapnya. Akhirnya terhapus sudah jarak 10cm di
antara mereka. Tentu saja Sung Young sangat terkejut, entah mendapat keberanian
darimana dia malah menggigit keras-keras bibir namja yang sedang menciumnya itu
sehingga berdarah.
“Agggh…!”
Teriak namja itu kesakitan. Saat dekapannya mengendur, Sung Young langsung
memukul perut namja itu agar dekapannya terlepas semua. Sakit, namja itu hanya
meringkuk menahan sakit pada perutnya. Sung Young tidak peduli, dia segera
pergi keluar motel dengan segenap rasa sedih, takut, dan jengkel dalam hatinya.Yah,
namja asing yang tidak dikenal Sung Young itu justru telah merebut first
kissnya. Selama perjalanan pulang, Sung Young hampir menangis mengingat
kejadian tadi. Untung saja tadi tidak berlanjut ke hal yang lebih jauh. Cukup
melegakan.
~☺~
Seorang
namja berjalan menuju bartender, menghampiri seorang yeoja yang sedang
membersihkan meja. Dia hendak menanyakan sesuatu.
“Silyehamnida.”
Ucap namja itu sopan. Yeoja yang disapa mendongak dan terkejut mendapati siapa
di depannya. Ne, yeoja itu Sung Young. Dan namja yang menyapanya tak lain
adalah namja yang semalam.
“N..Ne,
ada apa?” Tanya Sung Young gugup. Dia tidak sengaja melihat titik gelap pada
bibir namja itu (bekas gigitan oy).
“Aku
hanya ingin bertanya. Apa kamu tahu seseorang yang membawaku kemarin? Saat aku
sedang mabuk.” Deg! Jantung Sung Young nyaris berhenti ditanya seperti itu.
Akankah dia menjawabnya?
“Umm,
mollayo tuan.” Sung Young kembali membersihkan meja, tapi hanya pura-pura.
“Ah..Aku
menduga dia seorang yeoja. Dia meninggalkan ini di kemejaku. Kau tau ini milik
siapa? Oiya, panggil saja aku Young Saeng”
Namja
bernama Young Saeng itu memperlihatkan sebuah anting kepada Sung Young. Sung
Young hanya memelototi benda itu dan menggeleng. Sejenak dia meraba telinga
kanannya yang kosong. Yah, benar itu antingnya. Tapi Sung Young menutupi
telinganya dengan rambut panjangnya.
“Mianhae
Young Saeng-ssi, jeongmal mollayo.”
Jawaban
Sung Young membuatnya menghela putus asa. Dia berharap sekali bisa tahu siapa
yeoja yang mau membawanya ke motel. Tentu dia ingin mengucapkan terimakasih
dan…minta maaf mungkin?
“Hm, ok
gamsahamnida. Kalau begitu aku pesan minuman saja,, enggg..soju 1 botol.”
Setelah
memesan, Young Saeng menuju ke meja favoritnya. Dia menunggu sambil melihat
anting itu. Dirinya terus dihinggapi rasa penasaran. Siapa yeoja yang
bersamanya semalam?
“Ini,
Young Saeng-ssi.” Sung Young meletakkan soju diatas meja Young Saeng. Lalu
segera pergi menghampiri pelanggan-pelanggan yang baru datang. Sambil meneguk
pesanannya, pandangan Young Saeng tak pernah lepas dari Sung Young. Terus
diamatinya setiap gerak Sung Young. Seolah dia penasaran dengan yeoja pelayan
itu.
Pukul 12
malam tiba. Waktu kerja Sung Young telah berakhir. Setiap hari senin Sung Young
hanya bekerja sampai jam 12. Dia membereskan tasnya dan bergegas pulang. Tak
sengaja dia melihat ke satu meja pelanggan. Young Saeng, ternyata dia masih di
sana. Entah apa yang dilakukannya. Begitu melihat Sung Young keluar dari club,
Young Saeng berniat untuk pulang juga, setelah membayar pesanannya tentunya.
Dari kejauhan
Young Saeng masih bisa melihat sosok Sung Young yang tengah berjalan di
kegelapan malam. Tiba-tiba mata Young Saeng menangkap siluet manusia yang
muncul dari semak-semak mengagetkan Sung Young. Dapat dengan jelas Young Saeng
melihat yeoja itu ditarik-tarik secara paksa oleh orang itu. Karena khawatir
terjadi apa-apa, Young Saeng berlari mendekati.
“Hei!!
Lepaskan yeoja itu?!” Teriak Young Saeng begitu melihat Sung Young yang
ketakutan, entah apa yang akan dilakukan orang itu yang ternyata seorang namja.
“Berani
kau?!”
Akhirnya
terjadilah pertempuran seru antara Young Saeng dengan namja itu. Sung Young
menjauh sedikit menyaksikan perkelahian di depannya. Jantungnya masih berdebar-debar
(takut). Pada akhirnya Young Saeng yang menang. Namja itu babak belur tapi
Young Saeng tidak terluka sedikit pun.
“Gwaenchanayo
agashi??” Tanya Young Saeng khawatir pada Sung Young.
“Ne…Emm,
panggil saja aku Sung Young. Ah, jeongmal gamsahamnida telah menolongku.”
Mungkin karena tadi, rambut Sung Young menjadi tersibak. Memperlihatkan
telinganya. Dan Young Saeng melihat keganjilan pada telinga kanan Sung Young.
“Hei,,
kau yeoja itu? Kenapa tadi berbohong?” Menyadari sesuatu, Sung Young langsung
menutupi telinga kanannya. Ketahuan sudah, dia tidak bisa mengelak lagi. “Ini
milikmu, kan??” Young Saeng memberikan anting yang sedari tadi berada di saku
jaketnya.
“Mian..”
“Anni,
aku hanya mau mengucapkan terimakasih padamu. Jeongmal gamsahamnida telah
membawaku ke motel.” Young Saeng membungkukkan badannya 2 kali sebagai tanda
bahwa ia sangat berterimakasih. “Oh iya, apa terjadi sesuatu malam itu?” Tanya
Young Saeng takut-takut. Sung Young menggeleng cepat. Agar Young Saeng tidak
bertanya-tanya lagi dia segera pergi, menghentikan taksi yang kebetulan melintas
di depannya.
~☺~
Sejak
pertemuan itu, Young Saeng selalu datang ke club yah walau dia memang sejak
dulu ke situ terus. Tapi tujuannya berbeda, dia ke club hanya untuk menemui
Sung Young, bukan untuk mabuk. Dia merasa ada suatu hal yang terjadi pada malam
itu, terbukti dengan tingkah Sung Young yang selalu menghindar darinya.
Walaupun Young Saeng sudah meminta maaf atas entah kesalahan apa, tapi dia
tetap penasaran. Dan sepertinya,,, Young Saeng mulai tertarik pada yeoja cantik
itu.
Di club,
Young Saeng bahkan sering membantu Sung Young. Membantu saat Sung Young dalam
masalah. Atau ketika Sung Young digoda oleh nappeun namja, Young Saeng mau
membela Sung Young. Lama-kelamaan hati Sung Youg luluh, merasa Young Saeng
begitu baik padanya. Dia tidak bisa menghindari namja itu terus. Akhirnya saat
mereka sedang berbincang, Young Saeng menanyakan hal yang selalu membuatnya
penasaran dan kali ini Sung Young menjawabnya.
“Aku
Tanya sekali lagi, apa terjadi sesuatu pada malam itu? Kelihatannya membuatmu
sedih.”
“Ne,
sebenarnya kau…malam itu telah..menciumku. Hhh, itu nae first kisseu.”
Young
Saeng terbelalak. Dia benar-benar merasa bersalah telah mencium yeoja yang
bahkan belum dikenalnya pada waktu itu. Dan jujur, itu sebenarnya juga first
kiss untuk Young Saeng. “Hajiman gwaenchana, tidak usah dipermasalahkan,
Aku…tidak apa-apa.” Sung Young mencoba tersenyum. Tapi Young Saeng justru tidak
bisa berhenti mengucapkan kata maaf.
“Aih,
jeongmal Young Saeng-ssi, aku tidak apa-apa.”
“Baiklah.
Ah ya, panggil saja aku oppa, agar lebih akrab.”
“Ne, oppa.
Emm, aku juga ingin bertanya. Oppa hobi mabuk, ne?”
“Mworago?
Ah itu. Sebenarnya dulu aku tidak pernah mabuk-mabukan. Hanya saja, sejak
kejadian itu…yahh.” Young Saeng tertunduk. Pikirannya melayang ke masa lalu.
“Eh?
Memang ada apa kalau boleh tahu?” Young Saeng menatap Sung Young, menghela
nafas. Di matanya terpancar kesedihan.
“Dulu aku
punya yeojachingu, tapi dia selingkuh. Aku sangat terpukul melihatnya
bermesraan dengan namja lain. Belum selesai masalah itu, orangtuaku
terang-terangan berkata padaku bahwa mereka akan bercerai, hhh… Mereka sungguh
tidak memikirkanku!” Brakk! Young Saeng menggebrak meja, emosi. Membuat Sung
Young terlonjak di tempat.
“Aku
sedih mendengar ceritamu, hajiman…kau harus bersabar menerima cobaan ini. Mabuk
bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasinya. Justru malam memperburuk
keadaan.”
“Hehe,
mian aku sedikit emosi. Heum, lucu kau mengatakan hal seperti itu. Padahal kau
kan pelayan di sini.” Sung Young hanya tersenyum kecut menanggapi.
“Kau
tahu, aku sebenarnya tidak mau bekerja di sini. Tapi kalau tidak bekerja, aku
tidak akan punya uang untuk menghidupi diriku.”
“Nah,
kalau begitu keluar saja. Aku akan membantumu mencari pekerjaan lain. Memang
kau tinggal sendiri?”
“Ne, aku tinggal
di apartemen sendiri. Orangtuaku…sudah tiada.” Menghela nafas singkat. “Eh, apa
kau serius mau membantuku?” Young Saeng hanya mengangguk mengiyakan. “Waeo?
Kenapa kau mau membantuku, oppa?” Lanjut Sung Young.
“Ah,
sebenarnya selain itu, aku tidak mau kau berlama-lama di sini dan digoda oleh
namja-namja kurang ajar.”
“Memang
kau siapa sampai bisa berkata seperti itu?” Tanya Sung Young penasaran.
Pertanyaan Sung Young membuat Young Saeng gugup sesaat, entah wajahnya
tiba-tiba memerah. Young Saeng terlihat ingin mengatakan sesuatu.
“Aku…aku
sebenarnya menyukaimu Sung Young-ah. Nae yeojachingu halkkayo?”
~☺~
Mata
Young Saeng langsung jelalatan(?) begitu dia masuk ke apartemen yeojachingunya.
Ini pertama kalinya sejak mereka pacaran. Apartemen Sung Young lumayan besar
dan tentunya sangat rapi. Walau tidak banyak perabot di dalamnya, inilah yang
membuat apartemen Sung Young terlihat luas.
Young
Saeng langsung menghempaskan pantatnya begitu melihat sofa merah di hadapannya.
Siang ini cukup melelahkan untuk mereka. Yah, seharian ini Young Saeng membantu
Sung Young untuk mencari pekerjaan. Sung Young merasa lega telah terlepas dari
club itu. Dan pada malam perbincangan itu, Young Saeng juga telah berjanji
bahwa ia tidak akan mabuk lagi, demi Sung Young.
“Jhagi,
duduklah.” Pinta Young Saeng sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Sung
Young hanya menurut.
“Emm,
Sung Young-ah. Aku mau bertanya, apa kau menyesal telah memberikan first kissmu
untukku?” Sung Young heran mendengar pertanyaan namjachingunya, tapi kemudia
dia tersenyum dan menjawab.
“Yah,
awalnya tentu sangat menyesal dan sedih oppa. Hajiman, saat ini sudah berubah.
Selama oppa selalu bersamaku, aku tidak akan menyesal, hehe.”
“Hahaha,
bisa saja kamu. Ah, jujur itu juga first kiss untukku.”
“Kojitmalyo!”
Bantah Sung Young cepat. Dia merasa Young Saeng berbohong dengan mengatakan
bahwa malam itu adalah ciuman pertamanya.
“Mwoya?
Kau tidak percaya?”
“Heuh,
oppa kan sudah pernah punya pacar. Hmm, dan kulihat dulu oppa suka bawa yeoja
saat di club.” Young Saeng hanya melengos.
“Heh, walau
aku sudah pernah pacaran, tapi aku belum pernah menciumnya. Dan satu lagi,
yeoja yang aku bawa saat di club itu tak lain hanya untuk menemaniku saja,
tidak ada maksud lain. Jeongmal, aku mengatakan yang sebenarnya.” Jelas Young
Saeng panjang lebar mencoba meyakinkan Sung Young. Tapi Sung Young malah
memandang Young Saeng dengan tatapan menyelidik.
“Hahaha,
baiklah. Aku percaya padamu, oppa.” Itu membuat Young Saeng lega. “Hajiman, wajah
oppa sedikit meragukan. Karena tampang oppa adalah tampang-tampang seorang
nappeun namja, hehe.” Kata Sung Young sambil menjulurkan lidahnya, mencoba
menggoda namjachingunya.Young Saeng yang diperlakukan seperti itu hanya
cemberut. Tapi tak lama kemudian dia tersenyum jahil.
“Baiklah,
aku akan menjadi seperti yang kau pikirkan. Aku akan menjadi nappeun namja.”
Young
Saeng mengeluarkan evil smilenya. Sung Young yang semula tertawa langsung
terdiam melihat Young Saeng menatap tajam kearahnya. Perasaannya tidak enak.
Tanpa dikomando, Young Saeng langsung melepaskan hoodie yang dipakainya. Kali
ini Young Saeng menatap Sung Young seduktif sambil berusaha melepas kaos
hijaunya, tapi tidak jadi. Sung Young menelan ludah, tidak dapat berkata
apa-apa. Tiba-tiba Young Saeng menggeser duduknya lebih mendekat ke Sung Young.
Sung Young menjadi was-was, jantungnya berdebar-debar. Semakin Young Saeng
mendekat, Sung Young malah menggeserkan pantatnya menjauh. Sampai akhirnya
punggungnya menabrak lengan sofa. Tentu itu membuat Sung Young tidak dapat
bergerak lagi mengingat Young Saeng sudah berada tepat di depannya. Pikirannya
langsung kacau saat ini.
Melihat
Sung Young yang ketakutan dan gugup membuat Young Saeng melebarkan evil
smilenya. Tagan Young Saeng tergerak menuju pipi Sung Young. Perlahan-lahan
Young Saeng memajukan wajahnya. Seperti tahu apa yang akan dilakukan Young
Saeng atau karena terlalu gugup, Sung Young langsung memejamkan matanya.
Hajiman…
“Jhagiya?
Kau ini kenapa? Aku kan hanya ingin mengambil semut di pipimu, lihat.” Sontan
Sung Young langsung membuka matanya. Young Saeng ternyata sudah kembali duduk
di posisi semula. Terlihat jelas ekspresi Young Saeng yang menahan tawa. “Huff,
huff, hari ini panas sekali, yah.” Kata Young Saeng sambil mengibaskan kerah
kaosnya. Tak lupa dia mengerling pada Sung Young yang menahan malu.
“Young
Saeng oppaaa!!! Kau sangat menyebalkan!!!”
*THE END*
DON'T FORGET TO RCL!
NO PLAGIATOR!! NO SILENT READER!!
Fb Link: Oneshoot
Related Posts :
- Back to Home »
- 17+ , Heo Young Saeng , Romance , Young Couple »
- zuSaeng501 | OUT THE CLUB | Heo Young Saeng

