Posted by : Zusli zuSaeng Triple'S Saturday, May 17, 2014


Details:
Title            : Sadist Couple
Author       : Zusli aka Shin Sung Young
Genre         : Action, Thriller, Sadistic
Category    : 17+ 
Casts:
          Heo Young Saeng
          Shin Sung Young
          Other SS501’s Personnels
          Other casts

Thanks to God, casts, and readers..
Happy Reading ^^

©2013 zuSaeng501




*501*

            Seorang namja bernama Heo Young Saeng tengah berusaha membuka matanya yang terkatup rapat layaknya dilem. Gara-gara sebuah alarm yang mengusik mimpinya, mau tidak mau dia harus terbangun. Diambilnya sebuah ponsel dari meja kecil, layarnya masih berkedip-kedip namun lagu merdu Art of Seduction sudah terhenti. Itu bukan alarm biasa, itu sebuah pesan pengingat. Di layar tertulis bahwa Young Saeng hari ini ada rapat tepat pukul 10. Dilirknya jam klasik yang tergantung di diding kamar tepat di atas televisi, jarum pendek masih menunjukkan angka 7.
            “Kenapa aku harus mengatur alarm jam 7? Huh.”
Diletakkannya kembali ponselnya di atas meja. Namja itu duduk, bersandar di kepala ranjang lalu  menguap karena masih kekurangan pasokan oksigen setelah terbangun dari tidur. Young Saeng sedikit menarik selimut untuk  menutupi tubuhnya yang tanpa pelindung dari sengatan udara pagi yang dingin. Sejenak dia melirik sosok yeoja yang masih tidur pulas di sisi kanannya dengan keadaan sama seperti dirinya. Seulas senyum terkembang di bibirnya mengingat kegiatan yang dilakukannya bersama yeoja yang tak lain adalah istrinya itu semalam. Gara-gara semalam juga tubuhya menjadi pegal sekarang.
Young Saeng mencondongkan badannya ke yeoja yang baru mendampinginya 1 tahun itu.  Diperhatikannya wajah cantik nan damai istrinya saat tidur. Rasanya benar-benar menyenangkan saat kau terbangun dari tidurmu lalu mendapati seseorang yang sangat kau cintai berada di sampingmu. Biasanya yeoja itu akan menyambut Young Saeng saat tersadar dari alam mimpinya. Tapi nampaknya dia sangat lelah sehingga sangat pulas dalam tidurnya.
“Good morning, yeobo!” Young Saeng  mengecup bibir istrinya sekilas lalu bergegas ke kamar mandi yang memang berada di kamar luas mereka.

Istri Young Saeng yang bernama Shin Sung Young atau Heo Sung Young itu baru membuka mata 30 menit kemudian. Dia celingak-celinguk tidak mendapati suaminya di kamar. Hah, sekali lagi Sung Young bangun lebih terlambat dari suaminya itu. Dia bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi dan membasuk muka lalu segera menuju dapur, tempat di mana dia sudah menebak suaminya berada.
Dan benar saja, Young Saeng tengah sibuk berkutat dengan wajan dan kompor. Sung Young memandangi suaminya yang posisinya membelakanginya dari ambang pintu dapur sambil tersenyum. Lihatlah, betapa anehnya seorang namja dengan pakaian resmi: kemeja biru, dasi hitam, dan celana panjang hitam, memakai apron berwarna hijau dan berkutat dengan sayuran. Namun Sung Young benar-benar merasa sangat beruntung dan bangga mempunyai suami pengertian yang pandai memasak. Di sisi lain Sung Young juga merasa malu karena dia tidak bisa memasak dengan baik. Walau dia sudah belajar dari Young Saeng, tetap saja dia tidak bisa memasak seenak suaminya. Yeoja itu sebenarnya ingin sekali mengambil kursus memasak, hanya saa sebuah pekerjaan di kantor yang menguras tenaga dan pikiran tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.

“Yeobo, kau tidak libur?” kata Sung Young sambil menuang air putih ke gelas. Young Saeng sedikit terkejut dengan kehadiran Sung Young.
“Mianhae, aku lupa kalau hari ini ada rapat.” Young Saeng masih saja sibuk dengan solet dan wajannya.
“Kalau memang begitu, seharusnya kita semalam tidak sampai larut sekali, kau pasti sangat lelah.” Sung Young bersandar di meja makan sambil mengamati tangan Young Saeng yang begitu ahli memainkan alat dapur itu. Sekali lagi ia merasa malu dan iri. Seharusnya ini menjadi kewajibannya melayani Young Saeng, bukan sebaliknya.
“Hahaha, kau menyesal? Aku sangaaaat senang semalam.” Namja itu mematikan kompor, menuang hasil karyanya ke piring dan berjalan mendakti Sung Young sekaligus meletakkan masakannya di meja. “Kau tidak senang?” begitu sampai di depan Sung Young, dia langsung merengkuh pinggang istrinya, berusaha mempersempit jarak di antara mereka. Sung Young membantu dengan melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya
“Kau ini bicara apa, yeobo? Tentu saja aku sangat senang.”
“Mau melakukannya lagi?” sambil tersenyum penuh arti, Young Saeng berusaha mengecup bibir istrinya. Hanya saja sebelum itu terjadi, Sung Young justru mendorongnya menjauh.
“Hah, memangnya kita harus melakukannya setiap hari? Setiap malam? Ck.”
            “Hahahaha, tentu saja!” Sung Young hanya memutar bola matanya, merasa pusing mendapat suami yang…seperti ini. “Hey, kau belum memberiku morning kiss, yeobo.” Sung Young yang sudah duduk di kursi hanya mengernyit, menatap suaminya yang sangat gemar tersenyum menggoda.
            “Mwoya? Yeobo, bukankah kau sudah mengambilnya tadi. Kau pikir aku tidak tahu, huh?” Young Saeng hanya bisa terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Cepatlah kita sarapan. Bukankah kau harus segera pergi ke kantor?”

*501*

            Young Saeng membelokkan mobilnya ke halaman luas sebuah bangunan yang sangat besar, sebuah kantor perusahaan roti yang cukup ternama di Gangnam. Selama ini Young Saeng mengatakan pada istrinya dan orang-orang bahwa dirinya bekerja sebagai manager di perusahaan  ini. Namun alih-alih masuk ke ruangan manager, Young Saeng justru memasuki pintu besi berkode yang menuju ke sebuah ruangan luas bawah tanah. Sebenarnya kantor usaha roti itu hanyalah sebuah penyamaran. Kedok atau usaha yang sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali dengan roti. Hal ini dilakukan karena tentu saja untuk melindungi identias. Sesungguhnya apa yang sebenarnya dikerjakan Young Saeng benar-benar sangat berbahaya dan beresiko. Dia adalah seorang…..

            “Kau selalu datang cepat, Tuan Heo.” Young Saeng menyalami namja tinggi yang berpakaian serba hitam itu. Tak lain dia adalah bosnya, bos dari perkumpulan illegal ini, namja paling kejam dan licik yang pernah ia temui sebelumnya.
            “Ne , Tuan Kim Hyun Joong. Karena kau bilang ini sangat penting, jadi aku harus datang cepat.”
            “Haha, geurae, sekarang duduklah!”
            Di ruangan gelap dan lembab ini dihuni 8 orang namja termasuk si bos dan Young Saeng yang duduk mengelilingi sebuah meja panjang. Orang-orang di situ nampak sangat sangar dan beraura kejam membuat siapa saja yang mendekat merasa ngeri. Mereka sebenarnya memang hanya manusia biasa, namun perbuatan dan dosa mereka yang teralu banyak membuat namja-namja muda itu nampak sangat mengerikan. Young Saeng yang memiliki wajah yang manis dan terkesan imut ternyata tidak semanis hati dan perbuatannya.
            “Geurae, hari ini kita akan membahas rencana tentang pembantaian seorang namja tengik yang berani-beraninya mengingkari kesepakatan.” Hyun Joong menyodorkan sebuah foto ke tengah-tengah meja yang langsung diambil Young Saeng, diamatinya seksama karena merasa familiar.
            “Bukankah ini Kim Kyu Jong? Milyader  baru Gangnam?” tanya Young Saeng.
            “Ne, itu memang dia. Bukankah dia sepakat untuk membantu mendanai kita? Tapi ternyata dia benar-benar mengingkari janji. Itu tugas yang akan aku limpahkan padamu, Tuan Heo. Karena kau adalah anggota terbaik kami. Buat dia merasakan kematian yang sangat menyakitkan.”
            “Yah, buat dia tersiksa!” Seru seorang namja dari seberang Young Saeng.
            “Kau tidak akan membantuku, Kibum?” seru Young Saeng pada namja tadi.
            “Mianhae, Young Saeng. Aku masih ada misi.”
            “Geurae, aku akan mengatasinya sendiri.”
          “Aku yakin kau bisa melakukannya, Tuan Heo. Kalau perlu, ambil harta apa saja yang dimilikinya, arra?” Young Saeng hanya mengangguk mengerti. “Oya, sekalian bawwakan aku lidah orang itu. Ck, lidah yang berani-beraninya digunakan untuk membohongiku.”
Kemudian mereka segera membahas rencana yang akan dilakukan selanjutnya sekaligus laporan mengenai tugas atau misi-misi yang tengah diemban oleh masing-masing anggota.
            Hah, pekerjaan bunuh-membunuh bukanlah perkerjaan yang baru sekali dilakukan Young Saeng. Bahkan dia mempunyai agenda mengenai korban-korban yang telah dia bunuh secara tragis. Entah ada apa dengan namja itu. Otaknya sudah benar-benar terkontaminasi dengan pikiran-pikiran jahat sehingga secara suka rela dia masuk ke dalam perkumpulan pembunuh bayaran ini. Sebenarnya bukan pembunuh biasa, tapi pembunuh luar biasa yang tega menyiksa korbannya agar bisa merasakan kematian paling mengerikan. Semengerikan apa yang hanya ada di mimpi terburukmu!

            Young Saeng tahu dia telah membohongi banyak orang terlebih istrinya. Selama 2 tahun ini dia tidak mau mengaku tentang pekerjaannya. Hanya saja, dia tidak sendiri. Kebohongan lain ternyata menyertai Young Saeng juga. Sung Young, istrinya itu sebenarnya tidak sebaik kelihatannya. Sepeninggal Young Saeng, yeoja itu segera memacu mobilnya ke sebuah bangunan yang tak kalah besar dengan kantor perusahaan roti Young Saeng. Selama ini dia juga berbohong, mengaku sebagai seorang akuntan perusahaan tapi nyatanya dia tidak berbeda dengan suaminya, seorang pembunuh wanita yang kejam.

            “Tumben hari ini kau datang cepat, Sung Young-ah.” seorang yeoja merangkul Sung Young, mereka beriringan memasuki sebuah ruangan.
            “Ne, kebetulan sekali suamiku hari ini ada rapat di kantor. Ada apa denganmu Jae In? Kau terlihat sangat senang.” Jae In adalah rekan kerja Sung Young, dengan kata lain yeoja itu juga seorang pembunuh kejam.
            “NE! Aku merasa sangat senang!” Jae In mendekatkan bibirnya ke telinga Sung Young. “Aku hamil.” Ruangan yang mereka masuki ternyata tidak ada orang. Apa boleh buat, mereka harus menunggu bos yang selalu datang terlambat.
            “Jinja? WAH! Pantas saja kau sangat senang. Kibum Oppa pasti juga sangat senang, ne? Kalian kan sudah lama meninginkan anak. Chukhaeyo chingu!”
            “Tentu saja, hehe gomawo Sung Young. Hm, bagaimana denganmu dan Young Saeng Oppa?” tanya Jae In sambil tersenyum  penuh arti.
            “Aaah, selama ini belum membuahkan hasil.”
            “Haha, teruslah berusaha!” Sung Young mencubit lengan Jae In untuk menutupi rasa malu yang menyerangnya. Mereka lalu tertawa-tawa bahagia bersama.

            “Hah, hah, mianhae aku terlambat lagi.” Seorang namja dengan tampilan kusut tengah terengah di ambang pintu. Lihatlah, jas yang dipakainya tidak dikancingkan dengan benar. Namja itu berusaha menstabilkan nafasnya, berusaha memperbaiki pakaiannya, dan bergegas menuju sofa di seberang Sung Young dan Jae In. Kedua yeoja itu sedari tadi mengulum senyum.
            “Apa Tuan Kim Hyung Jun bertengkar dengan yeoja lagi?”
            “Nehh..Hah, tidak habis pikir kalau pacarku melihatku bercumbu dengan yeoja lain. Ommohh, pipiku masih sangat sakit akibat tamparan tangan kotornya, ish.” Kali ini Sung Young dan Jae In tidak tahan untuk terkikik geli. Nama playboy kurang ajar yang terkadang konyol itu selalu membuat mereka tersenyum dan tertawa senang hanya dengan mendengar suara dan nada bicara manjanya. Hanya saja, saat dia benar-benar serius, aura yang ditimbulkan membuat siapa saja bungkam. Yah, namja itu bos yang sedari tadi ditunggu.
            “Kapan Anda akan serius dengan yeoja?” tanya Sung Young.
            “Suatu saat nanti. Aaah, sudahlah. Aku hanya ingin memberikan misi pada Sung Young. Sudah lama kan kau tidak mengemban misi? Aku harap kau siap.” Hyung Jun menyodorkan sebuah foto pada Sung Young.
            “Park Jung Min? nuguseyo?”
           “Dia adalah pengedar narkoba baru di  Gangnam yang sangat sukses dan tak kalah licik dengan Jin Sung, anggota kita. Bunuh dia, maka kita tidak akan punya saingan.”
            “Geurae. Aku akan melakukan sebisaku dan sesadis yang dapat kulakukan.”

            Tiba-tiba Sung Young merasakan getaran dari tasnya. Oh, ternyata berasal dari ponselnya. Layar ponsel itu berkedip-kedip tanda ada panggilan masuk. Gawat! Orang yang menelepon adalah Young Saeng. Tumben sekali namja itu telepon di saat jam kerja. Apa yang terjadi? Sung Young meminta ijin keluar ruangan untuk mengangkat telepon.
            “Yeobosseyo, yeobo?”
            “Chagiyaaa, yeoboyaaa. Jeongmal mianhae, hari ini aku pulang larut malam karena harus melembur pekerjaan mengenai rencana pembangunan. Mungkin aku akan pulang selepas jam 12. Eottae?”
            YES! Sorak batin Sung Young. Dengan begitu dia bisa menjalankan misinya tanpa harus membuat 501 alasan pada suaminya.
            “Jinjayo? Ah, geurae. Yang penting berhati-hati saja dan jaga stamina, jangan sampai kau kelelahan dan sakit, yeobo.”
            “Hahaha, jangan berlebihan. Aku sudah biasa kerja lembur. Ooh, aku tahu, kau mengkhawatirkan staminaku karena agar kita bisa….”
            “Geumanhae! Jangan membicarakan hal seperti itu lagi. Bekerjalah dengan baik, yeobo.” Tawa Young Saeng kali ini membuat Sung Young harus menjauhkan ponselnya dari kuping.
            “HAHAHAHA! Ne ne. Gomawo sudah mau mengerti, muah!” sambungan telepon diputus Young Saeng begitu saja membuat Sung Young menatap ponselnya aneh, seolah ponsel itu adalah namja yang baru saja meneleponnya.
            “Oh, kerja bagus Shin Sung Young! Kau menikah dengan namja pervert!”

*501*

            Sudah 1 jam lamanya mobil hitam itu terparkir di pinggir jalan, di sebrang sebuah bangunan bercat putih besar. Orang yang ditunggu-tunggu sedari tadi tidak kunjung muncul dari bangunan itu. Untuk mengusir bosan, Young Saeng mengeluarkan ponselnya dan memainkan sebuah game yang baru saja ia download. Sedang berada di tengah-tengah menjalankan misi, sempat-sempatnya namja itu bermain game. Hah, memang, bagi Young Saeng sehari saja tidak bermain game, hidupnya terasa hampa.
            Baru seru-serunya bermain, ekor mata Young Saeng menangkap sosok namja berjas keluar dari pintu besar yang dicat keemasan itu. Young Saeng bimbang, dia harus menyelesaikan game ini dulu atau bergegas menstarter mobil untuk mengikuti targetnya. Dengan berat hati Young Saeng keluar dari permainannya dan segera memacu mobil membuntuti mobil putih yang sudah beberapa meter di depannya.
            “Sialan kau.”
            Sepanjang perjalanan Young Saeng terus berada di belakang pantat target yang tak lain adalah Kim Kyu Jong, sang milyader. Nampaknya Kyu Jong menyadari keberadaan mobil hitam yang terus berada di belakangnya itu. Berulang kali Kyu berusaha mengecoh, tapi tetap saja mobil Young Saeng bisa berada di belakangnya lagi. Darah Kyu berdesir menngetahui ini ada yang tidak beres. Pemikiran yang pertama kali terlintas adalah, mobil itu atau orang yang ada di mobil itu mempunyai niat jahat.
            “Anak buah Hyun Joong? Hah, kejar aku kalau bisa!” diiringi seringaian, Kyu menginjak gas dalam-dalam. Young Saeng yang terkejut mendapati mobil Kyu melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba membuatnya semakin mempercepat laju mobil juga.
            “Kau sudah tahu rupanya? Haha, baguslah. Ayo kita bermain!”

            Ternyata Kyu Jong adalah pengemudi yang hebat, buktinya dia selalu bisa berada di depan dan bisa meliuk-liukkan mobil, menyelip di antara mobil-mobil yang ramai beriringan sepajang jalan besar Gangnam. Young Saeng tak mau kalah, ia terus berusaha mengejar Kyu. Bukan anggota terbaik namanya jika tidak ahli mengemudikan mobil. Hanya saja karena mobil mahal Kyu didesain sangat baik, itu menjadi tidak adil bagi Young Saeng.
            Pada akhirnya sampailah mereka di sebuah jalan lurus yang sepi. Kesempatan ini tidak disia-siakan Young Saeng untuk berada sejajar dengan Kyu. Diinjaknya gas pada kecepatan maksimum, selama beberapa detik Young Saeng berhasil menyamai. Kyu menengok ke sisi kanannya dengan terkejut karena Young Saeng tengah  menodongkan pistol tepat di kepalanya.
PRANGG!! Peluru panas Young Saeng berhasil menembus kaca mobil Kyu, untung saja namja itu sempat menunduk. Tapi karena keterkejutan, Kyu dengan reflek menginjak rem agar mobilnya tidak terus melaju dengan keseimbangan minimum, sementara mobil Young Saeng masih melaju di depannya.
            CIIIITT! Young Saeng mengubah halauan mobilnya, ia berbalik arah menuju tempat di mana mobil Kyu masih terhenti. Sebuah rencana melintas di benaknya. Rencana jahat yang benar-benar kejam! Kyu sadar akan hal itu, ia berusaha memundurkan mobilnya, menghindar dari namja pembunuh yang sedang melaju kearahnya. Namun sebelum mobil Kyu bergerak, dengan santai Young Saeng mengarahkan pistolnya ke roda mobil Kyu.
            DUAR! Tidak bisa dipungkiri, jantung Kyu berdebar sangat kencang, ketakutan, mengingat dirinya tidak lama lagi harus berhadapan dengan maut. Young Saeng sudah keluar dari mobilnya dan sekarang berjalan santai kearah Kyu yang masih shock di mobil. Kyu membuka pintu mobil yang berlawanan dari Young Saeng, mencoba untuk kabur. Ketakutan yang jelas terpancar di wajah Kyu membuat Young Saeng semakin melebarkan senyum jahatnya. Sebelum kabur, sebuah peluru menembus kulit kaki kanan Kyu menyisakan luka tembak yang menganga, sangat sakit. Darah tak hentinya keluar membasahi rumput dan sisi samping mobil. Kyu Jong yang masih di ambang pintu ambruk ke depan, ke rerumputan hijau.

            “Jangan coba-coba!!” Young Saeng menginjak pergelangan tangan Kyu sehingga ponsel Kyu terlepas dari genggamannya. Ternyata Kyu berniat memanggil bantuan.
            “Arrggh!” Tulang pergelangan Kyu nampaknya retak akibat di tekan dengan keras menggunakan sepatu Young Saeng yang terdapat gerigi-gerigi cukup tajam.
            Young Saeng hanya bisa menunjukkan seringaiannya dan langsung mencengkram kerah belakang Kyu, menyeret namja itu memasuki jajaran pohon di sampingnya, menembus kegelapan malam yang mencekam.
           
            “Apa yang akan kau lakukan padaku, hah!?” teriak Kyu marah sekaligus takut.
            “Membunuhmu secara perlahan.” Jawab Young Saeng datar, seolah pertanyaan Kyu adalah pertanyaan paling membosankan yang selalu dilontarkan oleh korban-korbannya.
            Tubuh Kyu ternyata sangat berat saat Young Saeng berusaha membuatnya berdiri. Ditegakkannya tubuh Kyu di antara batang pohon dan diikatnya kedua tangan dan kaki Kyu sehingga tubuh Kyu terentang seperti huruf X dengan posisi berdiri.
            “HAH! Apa motifmu melakukan semua ini!!?”
            “Kau harusnya sudah tahu. Ingkar janji adalah perbuatan buruk yang dibenci bosku.” Lagi-lagi Young Saeng hanya menjawab dengan santai dan ekpresi datar. Young Saeng senarnya malas berbasa-basi duu dengan korbannya. Dia lebih senang bekerja dalam diam.

            Young Saeng berjalan kira-kira  5 meter di depan Kyu lalu mengeluarkan pistol kecil istimewanya dan mengarahkan pada Kyu Jong yang memejamkan mata, ketakutan. Keistimewaan pistol Young Saeng adalah tidak mengeluarkan suara ledakan jika ditembakkan sehingga tidak akan mengusik ketenangan makhluk malam di hutan kecil ini.
            “Buka matamu!!”
            JLEB! Kaki kiri Kyu Jong sekarang mengeluarkan darah sama seperti kaki kanannya. Namja itu berteriak histeris merasakan kesakitan ganda pada kedua kakinya. Young Saeng tidak mau cepat-cepat menembak jantung Kyu, dia masih punya banyak waktu malam ini. Kebetulan masih jam setengah 12.
            Dengan banyak gaya Young Saeng membidik yang mana saja bagian tubuh Kyu yang dia inginkan dan tidak pernah meleset sekalipun Young Saeng melakukannya sambil melompat, tiduran bahkan memejamkan mata. Setelah merasa Kyu sudah berada di penghujung hidupnya, Young Saeng baru menghentikan aksinya. Ommo! Lihatlah milyader tampan itu sudah bermandikan darah segar. Beberapa bagian tubunya berlubang-lubang mengerikan akibat peluru panas. Young Saeng mendekati Kyu yang membuka mulut, terengah, kesulitan menghirup udara.
            Tanpa rasa kasihan Young Saeng menarik keluar lidah Kyu dan menebasnya dengan pisau lipat yang terselip di ikat pinggangnya. Kyu berteriak sekerasnya berusaha mengutarakan rasa sakit yang dideranya, namun hanya rasa ngilu di lidahnya yang dia dapat. Sebelum pergi, mata Young Saeng sempat menangkap benda hijau yang berpendar di kegelapan berada di jari Kyu. Sebuah batu berlian besar menarik perhatian Young Saeng dan tentu saja dia segera merenggutnya.
            “Ah, malam ini cukup sampai di sini.”
            Young Saeng berjalan meninggalkan Kyu sambil mengamati benda kenyal di tangan kanannya. Tangan kiri Young Saeng yang memegang pistol ternyata terarah ke belakang dan sekali lagi peluru panas melejit keluar dari moncong pistol mengenai dada kiri Kyu. Sekarang semua bekas aksinya tinggal diserahkan oleh Kim Hyun Joong, bosnya dan beberapa rekan kerjanya.

*501*

            “Ah, sudah jam 10 rupanya.”
            Sung Young segera mempercepat laju mobilnya, menuju ke sebuah pub malam ternama di Gangnam. Menurut informasi, targetnya kali ini adalah pemilik pub malam itu dan Sung Young berencana melakukan aksinya di sana. Jantung Sung Young sedikit berdebar mengingat rencana kali ini dia harus bisa menggoda targetnya, memancing namja bernama Park Jung Min ke dalam pesonanya, dengan begitu dia bisa lebih mudah membunuhnya. Sebenarnya rencana ini bukan yang pertama kalinya mengingat sudah 2 tahun dia bekerja sebagai pembunuh bayaran. Hanya saja kondisi saat ini berbeda karena dirinya sudah sah menjalin ikatan dengan namja yang sangat dia cintai.
            Sung Young kembali teringat, terakhir kali dia melakukan aksi goda-menggodanya ini justru malah membuatnya tergoda pada namja bernama Heo Young Saeng, suaminya yang pada saat itu secara kebetulan berada di tempat yang sama dengan dirinya.

            Pub malam mewah nan besar ini cukup membuat yeoja itu tertegun. Bukan karena kemewahannya, tapi karena orang-orang yang berada di dalamnya. Tempat ini seperti tempat perkumpulan laki-laki hidung belang, pelacur, dan jenis manusia immoral lainnya. Sung Young belum pernah menjumpai pub malam seperti ini sebelumnya. Tidak ada pilihan lain, dia harus tahan.
            Sung Young duduk santai di sebuah kursi depan meja bartender sekaligus matanya awas menyelidik ke segala penjuru mencari sosok namja yang mirip dengan foto targetnya. Namun yang dilihatnya justru pemandangan yang membuat pipinya membara, panas.
            “Ada yang bisa aku bantu, agasshi?” Sung Young tersentak kaget mendapati sosok bartender sudah berada di sebrang mejanya. Namja jangkung nan tampan itu tersenyum manis kearah Sung Young.
            “Mau pesan sesuatu?” tanya namja itu lagi. Sung Young masih terpaku karena namja itu adalah targetnya, Park Jung Min.
            “Ah, bukankah Anda Tuan Jung Min? Pemilik pub malam ini?”
            “Apakah aku sebegitu terkenalnya? Hahaha, ne agasshi, tapi kau cukup memanggilku Oppa.” Katanya diselingi senyum penuh arti. Sung Young membalasnya dengan tersenyum genit. Jung Min tersentak karena yeoja di depannya memberinya lampu hijau.
            “Boleh aku memesan usaha terbesarmu? Oya, panggil saja aku Youngi”
            “Kau doyan mengkonsumsi barang-barang itu juga rupanya nona Young. Kkaja! Kau bisa memilih apa saja yang kau butuhkan.”

            Sung Young berjalan mengikuti Jung Min menuju ke sebuah ruangan di luar keramaian pesta panas ini.  Akhir-akhir ini Sung Young merasa risih saat menggunakan pakaian sexy seperti sekarang ini, lebih tepatnya semenjak dia menikah.  Tentu saja dia lebih senang menggunakannya di depan suaminya daripada di tempat umum.
            Di depan sebuah pintu besar, berdiri 2 orang namja berbadan besar yang tak lain adalah petugas penjaga pintu besi itu, umm..lebih tepatnya penjaga barang yang ada di dalamnya. Dua orang itu menyingkir melihat Jung Min akan masuk ke sana. Sung Young mendengus sebal merasa mata penjaga-penjaga itu mengikuti setiap gerak-geriknya.

            “Waah, betapa banyaknya.” Sung Young tertegun mengetahui ruangan luas itu ternyata tempat penyimpanan segala jenis obat-obatan terlarang buatan Jung Min yang tentu saja sangat dilarang diperjual-belikan di Korea.
            “Pilihlah sesukamu, nona.” Nona? Sung Young tertawa dalam hati mendengarnya. Dia kan sudah menikah!
            Sung Young berencana akan membunuh namja itu di sini saja. Jung Min dengan bangga menceritakan semua hasil temuannya. Saat namja itu membelakangi, perlahan Sung Young mengeluarkan pisau panjang lipatnya yang terselip di pangkal stokingnya. Sial! Sebelum pisaunya keluar, Jung Min sudah berbalik ke arah Sung Young.
            “Jadi, kau memilih yang mana, cantik?” Jung Min merangkul pinggang Sung Young sambil menatap yeoja itu penuh harap dengan seulas senyum mesum.
            “Aku ingin semua jenis produkmu, chagi.” kata Sung Young dengan nada yang dibuat-buat semenggoda mungkin. Jung Min mengerjap tak percaya namun sejurus kemudian seringai lebar menghiasi wajah tampannya.
            “Kau pasti sangat kaya, baby.”
Sial! Jung Min mendorog Sung Young, lebih tepatnya menghempaskan yeoja itu ke tembok terdekat. Jantung Sung Young kembali berdebar gugup mengingat jarak di antara mereka sangat dekat namun dia berusaha tersenyum menggoda untuk menutupi rasa gugupnya. Jung Min berniat mencium bibir Sung Young, tapi yeoja itu menangkup kedua pipi Jung Min, mendorong wajahnya yang hampir menempel agar menjauh.
“Apa kau tidak punya kamar yang bagus di sini?”
“Hahaha, tentu saja aku punya. Kkaja! kita ke kamar pribadiku saja. Ah, kau benar-benar yeoja yang beruntung, sayang. Tidak banyak gadis yang bisa menarik perhatianku.”
Jung Min kembali merengkuh pinggang Sung Young, mencoba berjalan beriringan. Sesekali Jung Min mengecupi puncak kepala Sung Young. Yeoja itu hanya diam saja demi kelancaran misi. ‘Oh, jeongmal mianhae, Young Saeng Oppa’ katanya dalam hati. Mereka berjalan menuju sebuah kamar yang terletak di ujung lorong gelap, bena-benar jauh dari keramaian. Sempurna, dengan begitu orang-orang tidak akan tahu jeritan kesakitan Jung Min nantinya saat dia disiksa.
Kamar itu benar-benar luas karena sekaligus tergabung dengan ruang kerja. Banyak rak-rak buku dan almari-almari berisi obat-obatan. Sung Young tersenyum jahat kearah tempat tidur king size yang di setiap tiang ujungnya terdapat tali-tali. Mungkin Jung Min juga senang menyiksa orang di sini, terutama yeoja. Sebelum Jung Min bisa menyiksa bahkan menyentuhnya, Sung Young harus bisa menaklukan namja itu.
“Agh!”
Tanpa diduga Jung Min mendorong Sung Young ke kasur, membuatnya jatuh terlentang. Jung Min tersenyum lalu segera memposisikan dirinya di atas Sung Young. Yeoja itu kembali berdebar mengingat jarak keduanya kembali sangat dekat dan tak hentinya dia merutuki diri sendiri. Tidak bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi jika Young Saeng mengetahui perbuatannya ini. Wajah Jung Min mendekat, bukan ingin mengecup bibir Sung Young melainkan untuk berbisik tepat di telinga yeoja itu.
“Kau yang akan mati malam ini.”
Perkataan Jung Min membuatnya tersadar. Dia dalam bahaya! Sebelum sempat bertindak, terlebih dahulu Jung Min berhasil menarik lepas pisau lipat Sung Young yang sedari tadi masih terselip di stoking. OH, ANIYO! Ini di luar scenario yang dibuat Sung Young bersama Hyung Jun. Namun Jung Min kalah cepat dengan Sung Young. Yeoja itu segera menendang bagian sensitive tubuh Jung Min yang sukses membuat namja itu terguling ke samping dengan kaki yang menjuntai ke lantai. Sedetik kemudian Sung Young sudah berhasil menggenggam pisaunya. Hah, pengalaman-pengalaman berhadapan dengan namja licik sudah menjadi hal biasa bagi Sung Young.
“Hahaha, sepertinya tidak begitu, Tuan Jung Min. Kau yang harus mati!!”
Jung Min menyipitkan matanya geram. Diayunkannya kakinya sehingga mengenai kedua kaki Sung Young membuat yeoja itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Hal itu justru merugikan Jung Min karena Sung Young terjatuh tepat dengan pisau yang menancap di paha Jung Min.
“Arrgghh..ash!” Kesempatan ini digunakan Sung Young untuk menusuk dalam-dalam paha Jung Min yang satunya lalu diambilnya tali yang tersedia di ujunng-ujung ranjang. Diikatkannya tali itu ke kedua tangan Jung Min. Yah, hanya tangannya saja karena Sung Young yakin kaki Jung Min sudah mati rasa akibat tusukannya.
“Selamat datang di mimpi burukmu!” Sung Young tertawa horror mendapati mangsanya sudah tidak berdaya karena terus kekurangan darah.
Jung Min berniat memaki Sung Young namun yang keluar justru hanya teriakan memilukan saat dengan mulus Sung Young menancapkan pisau 10 cm nya ke perut Jung Min. Digerakkannya pisau yang masih menancap itu ke kiri ke kanan, ke atas ke bawah, mengoyak apa saja yang ada di dalamnya. Darah muncrat dan mengalir kemana-mana. Tentu saja Jung Min langsung tak sadarkan diri selamanya dengan mata yang melotot dan mulut yang menganga tanpa suara.
Saat melakukan itu Sung Young seakan buta dengan sekelilingnya bahkan dengan tubuh di depannya. Pikiran jahatlah yang telah menguasainya. Setelah tersadar, Sung Young baru merasa eneg dan jijik melihat tubuh mengenaskan Jung Min. Dibungkusnya tubuh Jung Min dengan seprai kuning yang berubah menjadi merah karena darah. Diseretnya bungkusan itu keluar kamar dan dibuang ke sebuah jendela kecil dengan pipa panjang yang mengarah langsung ke tempat pembuangan sampah.
Sung Young bersandar sejenak di jendela itu, berusaha menstabilkan nafasnya yang menggebu. Kemudian dia menelepon Hyung Jun, memberitahu kalau misinya sudah selesai. Sebelum pulang, Sung Young mengganti pakaiannya yang berlumuran darah.

*501*

            Hati Sung Young mencelos mendapai mobil hitam suaminya sudah ada di garasi rumah.  Dia terlambat! Suaminya ternyata pulang lebih cepat dari perkiraannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 dini hari. Sung Young lebih takut dengan posisinya kali ini daripada saat dia berhadapan dengan Jung Min beberapa menit yang lalu. Yeoja itu berusaha memikirkan 501 alasan mengenai keterlambatan pulangnya.
            Sung Young membuka pintu utama dengan hati berdebar maksimum. Gelap. Rumahnya dalam keadaan gelap gulita. Sung Young sempat berharap suaminya telah terlelap sehingga tidak akan memergokinya pulang selarut ini. Walau sebenarnya dia akan tetap diintrogasi keesokan harinya, tapi kan cukup memberi waktu Sung Young untuk berpikir. Namun harapan Sung Young kandas saat lampu ruang tamu menyala terang.

            “Kau pikir ini jam berapa, ha?” Sung Young masih terpaku, bingung akan menyampaikan alasan apa, dan takut dengan suaminya yang tiba-tiba mengeluarkan aura horror.
            Young Saeng terus berjalan mendekati Sung Young yang benar-benar mengkeret, merasa bersalah. Di dorongnya istrinya itu ke dinding, menekan kedua pundaknya agar terus menempel ke dinding yang dingin.
            “Dari mana saja kau?”
            Belum sempat Sung Young menjawab, namja itu malah mengarahkan wajahnya ke leher Sung Young, diendusnya sejenak lalu digigitnya sekaligu dihisap kuat layaknya vampire yang dehidrasi, namun gigitan itu tidak membuatnya terluka, hanya saja tetap meninggalkan jejak kemerahan.
            “Yeo..yeobo..Ahh Aku dari rumah teman un..tuk merayakan pesta lajang. Ummh, jeongmal mianhae tidak memberitahumu.”
            “Hm? Begitu.” Young Saeng masih saja melanjutkan aktivitasnya. Sung Young hanya bisa memejamkan mata, tidak bisa menolak atau suaminya akan semakin marah. Dia cukup bersyukur karena dengan begitu Young Saeng tidak menanyainya macam-macam. “Karena kau beum tidur, mari kita lanjutkan ini.” Young Saeng dengan mudah menggendong Sung Young ala bridal style menuju kamar mereka yang berada di lantai dua. Entah apa yang akan mereka lakukan.

*501*
           
            Sung Young tetap memaksakan bangun keesokan harinya karena dia harus segera melapor pada Hyung Jun mengenai misinya. Akibat kemarahan Young Saeng tadi malam, badan Sung Young yang menjadi korbannya. Badan Sung Young serasa remuk karena saking pegal dan lelahnya. Namun tidak bisa dipungkiri kalau dia merasa senang sekaligus lega Young Saeng tidak melanjutkan introgasi mengenai keterlambatan pulangnya.
            “Aku sangat sangat bangga padamu Sung Young-ah, kerjamu sangat bagus! Aku suka itu.” Sung Young hanya tersipu saat bosnya terus-menerus memuji hasil kerjanya.
            “Itu memang sudah menjadi kewajibanku untuk menjalankan tugas semaksimal mungkin.”
            “Ne ne, joa. Kali ini aku mempunyai tugas yang sangat penting, tugas yang menentukan nasib organisasi kita. Tugas penting ini aku yang akan mengerjakannya, umm..tapi aku butuh teman untuk membantuku. Karena Sung Young baru saja mendapat misi, bagaimana jika kau saja yang membantuku Jae In? Hah, aku tidak mengerti dengan anggota yang lain. Mereka lama sekali mengerjakan tugasnya.”
            Jae In yang sedari tadi hanya memainkan ponsel terkejut mendengar Hyung Jun memintanya menjadi partner untuk menjalankan misi. Nampak jelas raut keragu-raguan di wajahnya, padahal sebelum-sebelumnya Jae In akan sangat antusias jika sudah diminta untuk menjalankan misi walau sangat berbahaya sekalipun. Yeoja itu sebenarnya ingin menolak untuk misi kali ini tapi ia tidak berani mengutarakannya pada Hyung Jun. Sung Young yang mengerti keadaan Jae In berinisiatif mengajukan diri.
            “Aku..Aku lagi tidak apa-apa. Aku akan sangat senang membantu Anda menjalankan misi.”
            “Jinjayo? Ah, kalau kamu memang tidak keberatan, aku akan sangat senang. Kau anggota kesayanganku.” Sung Young hanya meringis mendengar kata ‘anggota kesayangan’ dari bos genitnya itu.
            “Jadi, misi apa yang akan kita jalani?”
            “Um, bagaimana kalau kita membicarakannya di taman saja? Aku lebih senang berbicara dengan yeoja cantik di tempat-tempat yang bagus, tidak seperti di ruangan kumuh ini.” Lagi-lagi Sung Young hanya bisa meringis sambil tidak henti-hentinya merutuki Hyung Jun. “Temui aku jam 4 di central park. Mian, aku harus pergi sekarang, aku harus menemui pacar baruku.”
            Sepeninggal Hyung Jun, Sung Young mengacak-acak rambutnya sendiri membayangkan berduaan dengan bosnya. Walau mereka terlibat dalam misi genting, Sung Young yakin namja itu tidak akan berhenti menggodanya. Jae In yang masih duduk manis di samping Sung Young tiba-tiba memeluknya kencang.
            “Aku sangat berterimakasih padamu, chingu.”
            “Arraseo Jae In-ah, kau tidak mungkin menjalankan misi dalam keadaan hamil.”
            “Kau benar-benar baik, Sung Young.”


            Di sisi lain, dua orang namja tegah merayakan keberhasilan di ruang rapat sambil menikmati bermacam minuman dan makanan ringan. Hyun Joong tak hentinya mengelus dan menatapi benda hijau berkilau di tangannya, yah berlian milik Kyu Jong yang direnggut Young Saeng semalam. Young Saeng tidak kalah senangnya, tentu saja karena dia mendapat upah besar dari bosnya yang terkadang bisa sangat baik itu.
            “Kerja bagus! Aku selalu bisa mengandalkanmu Tuan Heo.”
            “Gomawo Tuan Kim Hyun Joong.”
            Hyun Joong yang sedang duduk santai dengan kaki ditopangkan di atas meja langsung duduk tegap sambil reflek menggebrak meja cukup keras. Young Saeng yang juga sedang duduk santai menjadi terkejut dengan suara keras yang dibuat Hyun Joong. Ditatapnya bosnya itu heran.
            “Hari ini, bisakah kau membantuku? Aku harus menghadapi namja tengik yang berani-beraninya merebut yeojachinguku!!” kata Hyun Joong to the point, dengan aura kemarahan yang kentara.
            “Geurae. Memang siapa namja itu?”
            “Kim Hyung Jun. Dia ternyata juga menjabat sebagai bos perkumpulan pembunuh bayaran, cih. Setelah aku membunuhnya, tidak akan ada lagi namja yang mengusik ketenanganku sekaligus tidak akan ada lagi perkumpulan yang menyaingi kelompok kita.”
            “Yah, namja seperti itu harus segera dihancurkan. Bagaimana renacananya Tuan?”
            “Tenang, aku sudah memikirkan rencana yang bagus untuknya. Kau hanya perlu membantuku Tuan Heo, arra?”
            “Ne, arraseo.”

*501*

            “Kau mau es krim, Sung Young?”
            Sung Young hanya mengangguk saja, tidak berani menolak tawaran baik Hyung Jun, dan juga karena dia sebenarnya memang sangat menyukai makanan satu itu. Hm..Es krim coklat dengan krim susu yang lembut benar-benar menggugah selera Sung Young. Kebetulan sore hari ini cukup membuat gerah, akan sangat nikmat rasanya jika menikmati es krim apalagi es krim gratis. Sung Young terkekeh melihat Hyung Jun berlari-lari mengejar tukang es krim yang menjauh akan pergi dari taman. Ck, kadang bossnya itu bisa sangat kekanak-kanakan.
            Sambil menunggu, yeoja itu mengamati sekeliling taman. Taman luas ini tidak seramai biasanya atau mungkin karena memang sudah sore. Beberapa anak sudah bersiap untuk pulang. Dua pasang namja yeoja nampaknya juga sudah akan beranjak dari bangku taman tempat mereka bermesraan. Dengan begitu keadaan taman akan semakin sepi seiring satu persatu orang beranjak pergi. Kira-kira 10  menit kemudian Hyung Jun sudah kembali sambil membawa 2 es krim, hanya saja es krim yang satunya tinggal setengah.
            “Mian, membuatmu lama menunggu.”
            “Ah, gwaenchana.”
            “Wah, di sini semakin sepi saja, ne?”
            “Ne, jadi apa rencana kita?” tanya Sung Young tidak mau berlama-lama.
            “Geurae. Kau tahu Kim Hyun Joong? Dia ternyata adalah seorang pembunuh juga, um, lebih tepatnya bos dari pembunuh bayaran sama sepertiku. Sebenarnya perselisihan ini dimulai karena aku dituduh mengencani pacarnya. Hah! Padahal yeoja itu yang menginginkanku karena dia sering diacuhkan membuat yeoja itu merasa kesepian dan akhirnya dia menemukanku.” Namja itu nampak marah dan sedikit frustasi. Bisa Sung Young lihat sekelebat nafsu seorang pembunuh terpancar jelas di mata Hyung Jun.
            “Ennng..Jadi ini masalah yeoja?”
            “Ye, dan ah.. mian membuatmu terlibat. Tapi Hyun Joong mengancamku lebih dulu, maka sebelum itu terjadi, aku akan menghabisinya terlebih dahulu. Aku tahu dia akan sangat  licik, maka dari itu aku butuh bantuan. Kau tidak keberatan membantuku, kan? Jangan khawatirkan tentang upahnya, aku akan memberimu  upah yang  bahkan kau tidak akan bisa membayangkan berapa jumlahnya.”
            “Sepertinya itu bagus. Santai saja, bos,  senang bisa membantu.”
            “Ommo! Kau benar- bena yeoja…”
            Sung Young mengkerutkan dahinya, merasa heran karena tiba-tiba Hyung Jun menghentikan kalimatnya. Namja itu berusaha memfokuskan pendengarannya seolah baru saja mendengar sesuatu yang membuatnya waspada, matanya menyelidik segala arah mencoba mencari gerak-gerik mencurigakan.

            “AWAS!!!”
            Hyung Jun mendorong Sung Young ke samping membuat mereka berdua terguling, jatuh dari bangku taman. Zzzing!! Sebuah logam kecil melewati telinga Hyung Jun. Untung saja namja itu cepat bergerak! Kalau tidak peluru panas itu sudah pasti akan menembus kepalanya. Peluru yang muncul tiba-tiba dari semak-semak itu menancap di pohon besar belakang mereka.
            “Hahahaha! Aksi yang bagus!!”
Dua orang namja muncul dari semak-semak, salah satunya tak lain adalah orang yang melepas peluru tadi. Dan memang benar, sebuah pistol hitam ditodongkan tepat kearah Hyung Jun, disusul namja yang satunya juga mengeluarkan pistol perak kecil yang nampak mengkilap, pistol yang sudah digunakan oleh pemiliknya untuk membunuh orang-orang.
Mengetahui itu, Hyung Jun dan Sung Young membuat gerakan tiba-tiba. Mereka yang tersungkur di tanah langsung berguling berlawanan arah sambil mengeluarkan pistol masing-masing. Hyung Jun dengan lincah berguling cepat menghindar dari peluru-peluru yang sudah dilepas dari pistol hitam itu. Pada akhirnya Hyung Jun juga mengarahkan moncong pistolnya kearah namja yang sedari tadi berusaha menembaknya.
“Hebat juga kau!” Namja berpistol hitam itu melepas kacamata hitamnya. Yah, seperti yang bisa ditebak, dia adalah Hyun Joong. Kini Hyun Joong dan Hyung Jun saling menodongkan pistol.
Disisi lain, Sung Young yang  sudah bersiap melepas peluru ternyata hanya bisa terbengong dan mematung mendapati namja yang akan dihadapinya. Begitu pula dengan namja yang ternyata Young Saeng itu hanya bisa mengkerutkan dahi heran mendapati istrinya ternyata adalah anak buah dari targetnya. Namun Young Saeng tidak berniat sedikitpun menurunkan pistolnya yang teracung sempurna kearah Sung Young. Young Saeng tentu sangat terkejut dan sedikit marah mendapati Sung Young terlibat dalam hal-hal seperti ini, terlebih yeoja itu tidak menceritakan semuanya. Young Saeng berusaha menggerakan bibirnya bertanya ‘apa yang kau lakukan?’ tanpa suara.
Sung Young yang semula terkejut akhirnya bisa merubah ekspresinya menjadi garang sambil menatap tajam namja di depannya itu seolah-seolah ingin menelannya. Dia membalas ‘Kau sendiri, apa yang kau lakukan bersamanya?’ Young Saeng malah hanya terkekeh tanpa suara, seolah mengejek. Hal itu justru membuat Sung Young melotot.

“Jika benar seorang pemberani, bertarunglah tanpa senjata!” kata Sung Young tiba-tiba sambil membuang pistolnya ke samping. Ditatapnya 3 namja itu sengit yang dibalas dengan tatapan heran oleh ketiganya.
“Hahaha, ide bagus!” Young Saeng ikut membuang pistolnya ke tanah.
“Cih, ini akan sagat mudah.”
Hyun Joong dan Hyung Jun membuang senjata mereka bersamaan lalu dengan sengit mereka langsung menerjang satu sama lain. Beberapa kali Hyung Jun menerima hantaman keras dari Hyun Joong namun  dia tetap mampu bertahan bahkan sempat menyerang dan sukses membuat Hyun Joong tersungkur. Pukulan demi pukulan terlontar dari tangan dan kaki masing-masing. Hah, untung taman ini sudah benar-benar sepi sehingga tidak ada orang yang melihat dan juga mungkin karena mereka bertarung tepat di pojok taman yang dikelilingi beberapa tanaman yang cukup sukses menyembunyikan aksi mereka.
Sung Young yang sedang mengamati perkelahian itu tiba-tiba merasakan dorongan kencang di kedua pundak, menyeretnya terus sampai punggungnya membentur pohon besar. Wajah Young Saeng yang sekarang di selimuti ketakutan tepat berada di depan wajahnya.
“Sudah berapa lama?” Young Saeng kini menatap tajam.
“Du..dua tahun.”
“Wae? Kenapa kau berbohong padaku?”
Ekspresi takut dan waspada yang sempat ditunjukkan Sung Young tiba-tiba menghilang dan digantikan dengan sebuah senyum jahil. Yeoja itu bergerak cepat ke samping, terlepas dari penjara tangan Young Saeng lalu menarik kedua tangan namja itu ke belakang, menguncinya dengan mencengkram kuat.
“Kurasa, tidak hanya aku yang berbohong selama ini. Kau pura-pura menjadi manager, kan?”
Young Saeng menghentakkan kedua tangannya kencang agar terlepas dari cengkraman Sung Young. Berhasil! Kini Young Saeng justru yang mengunci tangan Sung Young dari belakang, mencengkram kuat tangan yeoja itu di depan. Jadi, seolah-olah Young Saeng  malah memeluk Sung Young dari belakang.
“Dan aku yakin kau juga bukan seorang akuntan, kan? Jebal, kita harus menghentikan ini! Aku tidak mau diantara kita ada yang terluka.” Bisik Young Saeng tepat di telinga Sung Young. Perlahan cengkraman Young Saeng mengendur dan Sung Young berbalik menghadap namja yang sangat dicintainya itu.
“Ne, hentikan semua ini. Sejujurnya aku sudah bosan.”

“ARRRGGHHH!” 
Sebuah teriakan memilukan mengusik pasangan suami istri itu. Keduanya menoleh ke asal suara. Tak jauh dari mereka nampak Hyun Joong tengah melotot sambil membuka mulutnya lebar-lebar berniat mengeluarkan teriakan namun yang keluar hanya decitan memilukan. Leher Hyun Joong mengucurkan darah kental segar akibat pisau lipat panjang yang ditusukkan Hyung Jun dari leher belakang Hyun Joong tembus hingga ke leher depan. Seketika Hyun Joong terkejang dan tewas dengan pisau yang masih tertancap.
Young Saeng yang melihat itu merasa tidak terima. Bukan karena Hyun Joong adalah bosnya, tapi karena Hyung Jun tidak adil! Bukankah kesepakatan tadi tanpa senjata? Namun Hyung Jun justru menggunakan pisau untuk membunuh Hyun Joong. Young Saeng mengambil pistolnya yang tergeletak di tanah lalu menembakkan isinya tepat di kepala Hyung Jun. Tidak hanya sekali, namun 3 kali membuat kepala Hyung Jun berlubang dan mengeluarkan darah sekaligus lendir menjijikkan.
“Cha..chagi?”
“Hah, bairkan saja! Mereka berdua pantas mendapat itu. Kkaja, yeobo! Kita pulang!”
Baru Sung Young akan melangkah, dua buah benda kecil dengan cepat menembus lengan kiri dan paha kirinya. Kulit Sung Young yang sobek tentu langsung mengucurkan darah segar. Sebelum yeoja itu ambruk, dengan cepat Young Saeng menangkapya.
“SUNG YOUNG!”
“A..agh! Yeo..hh..Yeobo..”
“Siapa yang melakukan ini?!” Young Saeng celingak –celinguk mencari-cari sosok yang berani menembak yeojanya. Yang didapatinya justru seorang namja yang sangat familiar.
“Young Saeng! Ah, untung aku berhasil menembak yeoja itu, kalau tidak…” BRUK! Young Saeng mencengkram erat kerah kemeja namja yang ternyata Kibum itu, rekan kerja Young Saeng.
“APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!”
“Calm bro!” Kibum menepis tangan Young Saeng, “Aku hanya melakukan tugas.”
“Dia..yeoja itu.. agh! Dia istriku!!”
Kibum tercengang. Diamatinya yeoja yang tengah menahan kedua luka tembaknya itu dengan tatapan tak percaya.
“Ba..bagaimana bisa? Dia..dia musuh kita.”
“Nan molla! Yang jelas tidak ada yang boleh menyakitinya, arra?! Aku bahkan tidak tahu Sung Young teribat dalam organisasi Hyung Jun. Kau…”
“Jamkkanman! Sung Young? Kau teman Jae In?” Sung Young hanya mengangguk, tidak bisa mengeluarkan suara karena menahan rasa sakit. Dalam hati dia sedikit sebal karena dua namja itu malah hanya mengobrol, bukannya menolongnya. Kibum terdiam, dia sekarang jelas-jelas merasa bersalah, “Ppali,  bawa yeoja itu ke rumah sakit. Aku akan mengurus mayat-mayat ini.”
Young Saeng langsung menghampiri Sung Young yang ternyata sudah tidak sadarkan diri. Namja itu menjadi panik dan cepat-cepat menggendong Sung Young, bergegas menuju rumah sakit.
“Joengmal mianhae! Akan aku transfer uang untuk biaya pengobatannya!” teriak Kibum pada Young Saeng yang sudah naik ke mobil hitam yang terparkir tak jauh dari situ.

*501*
            Sung Young mengerjapkan mata merasakan berkas sinar-sinar lampu yang menyilaukan langsung  menusuk retinanya. Young Saeng yang sedari tadi duduk di samping ranjang pasien Sung Young langsung menggenggam tangan kanan istri tercintanya, menyambut kesadaran Sung Young.
            “Apa yang terjadi?”
            “Yeobo, bagaimana keadaanmu?” Young Saeng mengelus rambut Sung Young sayang.
            “Baik. Hanya sedikit sakit di lengan dan pahaku.”
            “Kau kehilangan banyak darah tadi. Ommo, aku sangat gelisah dan takut saat dokter berusaha mengambil peluru dari tubuhmu. Untung saja operasinya berjalan lancar yeobo.”
            “Benarkah kau takut? Tapi…sepertinya suamiku ini sangat senang. Bowaeyo?” Young Saeng yang masih saja menggenggam tangan Sung Young hanya tersenyum, menampakkan lesung pipinya yang dalam. Jelas-jelas raut bahagia terpancar di sana.
            “Aku punya 3 kabar baik.”
            “Apa itu? Beritahu aku!”
            “Pertama, kita tidak harus terlibat dalam perkumpulan mengerikan itu. Yang kedua, aku diberi pekerjaan oleh Kibum di tempat kedua ia bekerja setelah perkumpulan itu. Namun ia memutuskan untuk keluar juga karena merasa tidak enak setelah kejadian tadi sore dan dia berniat untuk focus pada perusahaannya saja.”
            “Chukhaeyo Yeobo, aku turut senang! Dan? Yang terakhir?”
            “Yakin ingin tahu?” Sung Young mengangguk semangat.
            “Mwoya?!”
            “Kau..umm..maksudku kita.. kita akan akan punya aegi.” Senyum Young Saeng semakin lebar.
            “Maksudnya aku…aku…” Sung Young meraba perutnya yang masih rata. Setetes air mengalir di sudut mata yeoja itu namun segera dihapus oleh ibu jari Young Saeng.
            “Ne yeobo! Jeogmal gomawo! Aku semakin mencintaimu!” Young Saeng mengecup sayang kening Sung Young. Yeoja itu hanya menutup mata, merasa sangat hangat sekaligus bahagia dengan kenyataan ini. Namun dia merasa aneh saat Young Saeng perlahan menghampiri bibirnya. Ommo! Sempat-sempatnya namja itu! Sung Young mendorong dada suaminya pelan, berniat bertanya sekaligus berusaha menghentikan ciuman Young Saeng.
            “Yeobo,  bolehkah aku mengikuti kursus memasak?”
            “Haha, ne ne, tentu kau boleh. Pokoknya masakanmu jangan sampai kalah dengan masakanku.”  Sial! Namja itu malah menciumnya lagi. Oke, kali ini Sung Young hanya diam saja. Tidak habis pikir, suaminya ini tidak hanya pervert tapi juga tidak kenal tempat dan keadaan. Bahkan saat mendengar suara pintu berderik pun, nampaknya Young Saeng tidak peduli.

            “Jeosonghamnida Tuan Heo, bolehkah saya memeriksa istri Anda?”

*THE END*

DON'T FORGET TO RCL!
NO PLAGIATOR!! NO SILENT READER!!

FB Links: PART 1 PART 2



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog
©2014 FF501. Powered by Blogger.

Newest Updates

Popular Posts

- Copyright © Fanfiction for SS501 -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -